Hipertermi & Hipotermi

1.   Hypertermi

a.      Definisi

@ Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ke tidak kemampuan tubuh untuk meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas.

@ Hipertermia adalah suatu peningkatan suhu dalam tubuh disebabkan oleh suatu gangguan dalam mekanisme pengatur panas.

b.      Etiologi

Terjadinya hipertermi pada bayi dan anak, biasanya disebabkan

@ Perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma lahir dan obat-obatan

@ Infeksi oleh bacteria, virus atau protozoa.

@ Kerusakan jaringan misalnya demam rematik pada pireksia, terdapat peningkatan produksi panas dan penurunan kehilangan panas pada suhu febris.

@ Latihan / gerakan yang berlebihan.

c.       Gejala Minis 

@ Suhu bayi normal

Febris                    : 37,3 – 38°C

Hipertermia          : 39 – 40o C

@ Frekuensi pernafasan bayi agak cepat > 60 x 1 menit.

@ Tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badati menurun turgar kulit kurang banyaknya air kemih berkurang.

@ Antisipasi terjadi kejang. .

d.      Penanganan

Penanganan Hipermia Bayi Baru Lahir

o    Bayi dipindahkan ke ruangan yang sejuk dengan suhu kamar seputar 26°C- 28°C

o   Tubuh bayi diseka dengan kain basah sampai suhu bayi normal (jangan menggunakan es atau alcohol)

o   Berikan cairan dektrose NaCl = 1 : 4 secara intravena dehidrasi teratasi

o   Antibiotic diberikan apabila ada infeksi

e.       Komplikasi

1.      Kejang / syok


2.      Hipotermia

a.      Definisi

o   Hipotermia adalah turunmya suhu tubuh bayi dibawah 30

(Bari, Abdul Saifuddin 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo)

o   Hipotermia adalah pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas.

(Potter. Patricia A. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC)

o   Hipotermia adalah suhu rektal bayi dibawah 350C.

(Farrer, Hellen. 1999. Perawatan Maternitas, Jakarta: EGC)

b.      Etiologi

1.       Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna.

2.       Permukaan tubuh bayi relatif luas.

3.       Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas.

4.       Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak kedinginan.

Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tetap hangat tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama, setelah lahir. Misalnya bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan sekitar bayi cukup hangat namun bayi dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.

Terjadi perubahan termoregulasi dan metabolik sehingga

1.      Suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa derajat setelah kelahiran karena lingkungan eksternal lebih dingin daripada lingkungan di dalam uterus.

2.      Suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit yang besar dibandingkan dengan berat badan menyebabkan bayi mudah menghantarkan panas pada lingkungan.

3.      Kehilangan panas yang, cepat dalam lingkungan yang dingin terjadi melalui konduksi. konveksi, radiasi, dan evaporasi.

4.      Trauma dingin cold stress (hipotermia) pada bayi baru lahir, dalam huhungannya dengan asidosis metabolik dapat bersifat mematikan bahkan pada bayi cukup bulan yang sehat


c.       Tanda Dan Gejala

1.      Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi aktif letergis hipotanus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah.

2.      Pernafasan megap-megap dan lambat dan menangis lemah.

3.      Timbul skrema kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan.

4.      Muka bayi berwarna pucat.

5.      Hipotermia dapat menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian. 

d.      Tanda-tanda Hipotermia Sedang (Stress Dingin)

1)       Aktivitas berkurang, letargis

2)       Tangisan lemah.

3)       Kulit berwarna tidak rata (cutis marmorata).

4)       Kemampuan menghisap lemah.

5)       Kaki teraba dingin.

e.       Tanda-tanda Hipotermia Berat (Cedera Dingin)

1)       Sama dengan hipotermia sedang.

2)       Bibir dan kuku kebiruan.

3)       Pernafasan lambat.

4)       Pernafasan tidak teratur.

5)       Bunyi jantung lambat.

6)       Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolik.

f.       Mekanisme Kehilangan Panas

1.      Evaporasi adalah cara kehilangan panas yang utama pada tubuh bayi. Kehilangan panas terjadi karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi setelah lahir karena bayi tidak cepat dikeringkan atau terjadi setelah bayi dimandikan

2.      Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Bayi yang diletakkan diatas meja, tempat tidur atau timbangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas tubuh melalui konduksi

3.      Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan dekat benda yang mempunyai temperatur tubuh rendah dari temperature tubuh bayi. Bayi akan mengalami kehilangan panas melalui cara ini meskipun benda yang lebih dingin tersebut tidak bersentuhan langsung dengan tubuh bayi.

4.      Konveksi

Yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi. Missal: bayi diletakkan dekat, pintu / jendela terbuka.

g.      Pencegahan Hipotermi

1.      Ibu melahirkan bayi diruangan yang hangat.

2.      Segera mengeringkan tubuh bayi baru lahir.

3.      Segera letakkan bayi di dada ibu, kontak langsung kulit dan bayi

4.      Menunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu tubuh stabil.

h.      Tindakan Pada Hipotermia

Segera hangatkan bayi apabila tersedia alat yang canggih seperti incubator, gunakan incubator sesuai dengan ketentuan.

Cara lain adalah disesuaikan dengan tingkatan hipotermia :

1.       Hipotermia sedang

a.       Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih, dan hangat

b.      Segera hangatkan tubuh dengan metode kanguru

c.       Ulangi, sampai panas tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi tubuh bayi menjadi hangat

d.      Cegah bayi kehilangan panas.

e.       Beri ASI sedini mungkin,

f.       Setelah tubuh bayi menjadi hangat, nasehati ibu cara merawat bayi di rumah

-         Pencegahan hipotermia.

-         Menyusui secara eksklusif.

-         Pencegahan infeksi.

g.      Anjurkan ibu kontrol bayinva setalah 2 hari.

2.       Hipotermia berat

a.       Keringkan tubuh bayi dengan handuk kering, bersih dan hangat.

b.      Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru bila perlu ibu dan bayi berada dalam satu selimut / kain hangat yang disertai terlebih dahulu.

c.       Bila selimut mulai dingin segera ganti dengan yang hangat.

d.      Cegah bayi kehilangan panas dengan:

-         Memberi tutup kepala / topi bayi.

-         Mengganti kain / pakaian / popok yang basah dengan yang kering dan hangat.

e.       Beri ASI sedini mungkin dan lebih sering selama bayi menginginkan.

f.       Segera rujuk ke rumah sakit terdekat.

i.        Komplikasi

1.      Hiportemia berat

2.      Icterus

Macam-macam Hipotermi

a.       Hipotermia sepintas. Penurunan suhu tubuh rektum sebanyak 1°C-20C sesudah lahir. Suhu tubuh akan menjadi normal kembali sesudah berumur 4-8 jam, bila suhu lingkungan diatur sebaik-baiknya, Hipotermia sepintas ini terdapat pada bayi dengan BBLR, hipoksia, resusitasi yang lama, ruangan tempat bersalin yang dingin, bila bayi tidak segera dibungkus setelah lahir, terlalu cepat dimandikan (kurang dari 4 jam sesudah lahir), pembe­rian morfin pada ibu yang sedang bersalin.

b.      Hipotermia akut Terjadi bila bayi berada di lingkungan yang d ingin selama 6-12 jam. terdapat pada bayi dengan BBLR diruang tempat bersalin yang dingin, inkubator yang tidak cukup panas, kelalaian dari dokter, bidan dan perawat terhadap bayi yang akan lahir, yaitu diduga mati dalam kan­dungan akan tetapi ternyata lahir hidup dan sebagainya. Gejalanya ialah le­mah, gelisah, pernafasan dan bunyi jantung lambat dan kedua kaki dingin. Terapinya ialah dengan segera memasukkan bayi ke dalam inkubator yang suhunya telah diatur menurut kebutuhan bayi dan dalam keadaan telanjang supaya dapat diawasi dengan teliti

c.       Hipotermia sekunder. Keadaan ini tidak disebabkan oleh suhu lingkung­an yang dingin, akan tetapi oleh beberapa penyebab lain seperti sepsis, sindrom gangguan pernafasan dengan hipoksia atau hipoglikemia, perdarahan intrakranial, transfusi tukar, penyakit jantung bawaan yang berat dan bayi dengan BBLR dan hipoglikemia. Pengobatannya ialah dengan meng­obati penyebabnya misalnya dengan pemberian antibiotika, larutan gluko­sa, oksigen dan sebagainya. Pemeriksaan suhu tubuh pada bayi yang sedang mendapat transfusi tukar harus dilakukan beberapa kali oleh karena hipotermia harus diketahui secepat-cepatnya dan bila suhu sekitar 320C, transfusi tukar harus dihentikan untuk sementara waktu sampai suhu tubuh

 

About these ads

About maslichah05

suka eskrim dan coklat
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s