Hipertermi & Hipotermi

1.   Hypertermi

a.      Definisi

@ Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ke tidak kemampuan tubuh untuk meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas.

@ Hipertermia adalah suatu peningkatan suhu dalam tubuh disebabkan oleh suatu gangguan dalam mekanisme pengatur panas.

b.      Etiologi

Terjadinya hipertermi pada bayi dan anak, biasanya disebabkan

@ Perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma lahir dan obat-obatan

@ Infeksi oleh bacteria, virus atau protozoa.

@ Kerusakan jaringan misalnya demam rematik pada pireksia, terdapat peningkatan produksi panas dan penurunan kehilangan panas pada suhu febris.

@ Latihan / gerakan yang berlebihan.

c.       Gejala Minis 

@ Suhu bayi normal

Febris                    : 37,3 – 38°C

Hipertermia          : 39 – 40o C

@ Frekuensi pernafasan bayi agak cepat > 60 x 1 menit.

@ Tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badati menurun turgar kulit kurang banyaknya air kemih berkurang.

@ Antisipasi terjadi kejang. .

d.      Penanganan

Penanganan Hipermia Bayi Baru Lahir

o    Bayi dipindahkan ke ruangan yang sejuk dengan suhu kamar seputar 26°C- 28°C

o   Tubuh bayi diseka dengan kain basah sampai suhu bayi normal (jangan menggunakan es atau alcohol)

o   Berikan cairan dektrose NaCl = 1 : 4 secara intravena dehidrasi teratasi

o   Antibiotic diberikan apabila ada infeksi

e.       Komplikasi

1.      Kejang / syok


2.      Hipotermia

a.      Definisi

o   Hipotermia adalah turunmya suhu tubuh bayi dibawah 30

(Bari, Abdul Saifuddin 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo)

o   Hipotermia adalah pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas.

(Potter. Patricia A. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC)

o   Hipotermia adalah suhu rektal bayi dibawah 350C.

(Farrer, Hellen. 1999. Perawatan Maternitas, Jakarta: EGC)

b.      Etiologi

1.       Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna.

2.       Permukaan tubuh bayi relatif luas.

3.       Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas.

4.       Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak kedinginan.

Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tetap hangat tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama, setelah lahir. Misalnya bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan sekitar bayi cukup hangat namun bayi dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.

Terjadi perubahan termoregulasi dan metabolik sehingga

1.      Suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa derajat setelah kelahiran karena lingkungan eksternal lebih dingin daripada lingkungan di dalam uterus.

2.      Suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit yang besar dibandingkan dengan berat badan menyebabkan bayi mudah menghantarkan panas pada lingkungan.

3.      Kehilangan panas yang, cepat dalam lingkungan yang dingin terjadi melalui konduksi. konveksi, radiasi, dan evaporasi.

4.      Trauma dingin cold stress (hipotermia) pada bayi baru lahir, dalam huhungannya dengan asidosis metabolik dapat bersifat mematikan bahkan pada bayi cukup bulan yang sehat


c.       Tanda Dan Gejala

1.      Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi aktif letergis hipotanus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah.

2.      Pernafasan megap-megap dan lambat dan menangis lemah.

3.      Timbul skrema kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan.

4.      Muka bayi berwarna pucat.

5.      Hipotermia dapat menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian. 

d.      Tanda-tanda Hipotermia Sedang (Stress Dingin)

1)       Aktivitas berkurang, letargis

2)       Tangisan lemah.

3)       Kulit berwarna tidak rata (cutis marmorata).

4)       Kemampuan menghisap lemah.

5)       Kaki teraba dingin.

e.       Tanda-tanda Hipotermia Berat (Cedera Dingin)

1)       Sama dengan hipotermia sedang.

2)       Bibir dan kuku kebiruan.

3)       Pernafasan lambat.

4)       Pernafasan tidak teratur.

5)       Bunyi jantung lambat.

6)       Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolik.

f.       Mekanisme Kehilangan Panas

1.      Evaporasi adalah cara kehilangan panas yang utama pada tubuh bayi. Kehilangan panas terjadi karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi setelah lahir karena bayi tidak cepat dikeringkan atau terjadi setelah bayi dimandikan

2.      Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Bayi yang diletakkan diatas meja, tempat tidur atau timbangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas tubuh melalui konduksi

3.      Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan dekat benda yang mempunyai temperatur tubuh rendah dari temperature tubuh bayi. Bayi akan mengalami kehilangan panas melalui cara ini meskipun benda yang lebih dingin tersebut tidak bersentuhan langsung dengan tubuh bayi.

4.      Konveksi

Yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi. Missal: bayi diletakkan dekat, pintu / jendela terbuka.

g.      Pencegahan Hipotermi

1.      Ibu melahirkan bayi diruangan yang hangat.

2.      Segera mengeringkan tubuh bayi baru lahir.

3.      Segera letakkan bayi di dada ibu, kontak langsung kulit dan bayi

4.      Menunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu tubuh stabil.

h.      Tindakan Pada Hipotermia

Segera hangatkan bayi apabila tersedia alat yang canggih seperti incubator, gunakan incubator sesuai dengan ketentuan.

Cara lain adalah disesuaikan dengan tingkatan hipotermia :

1.       Hipotermia sedang

a.       Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih, dan hangat

b.      Segera hangatkan tubuh dengan metode kanguru

c.       Ulangi, sampai panas tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi tubuh bayi menjadi hangat

d.      Cegah bayi kehilangan panas.

e.       Beri ASI sedini mungkin,

f.       Setelah tubuh bayi menjadi hangat, nasehati ibu cara merawat bayi di rumah

–         Pencegahan hipotermia.

–         Menyusui secara eksklusif.

–         Pencegahan infeksi.

g.      Anjurkan ibu kontrol bayinva setalah 2 hari.

2.       Hipotermia berat

a.       Keringkan tubuh bayi dengan handuk kering, bersih dan hangat.

b.      Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru bila perlu ibu dan bayi berada dalam satu selimut / kain hangat yang disertai terlebih dahulu.

c.       Bila selimut mulai dingin segera ganti dengan yang hangat.

d.      Cegah bayi kehilangan panas dengan:

–         Memberi tutup kepala / topi bayi.

–         Mengganti kain / pakaian / popok yang basah dengan yang kering dan hangat.

e.       Beri ASI sedini mungkin dan lebih sering selama bayi menginginkan.

f.       Segera rujuk ke rumah sakit terdekat.

i.        Komplikasi

1.      Hiportemia berat

2.      Icterus

Macam-macam Hipotermi

a.       Hipotermia sepintas. Penurunan suhu tubuh rektum sebanyak 1°C-20C sesudah lahir. Suhu tubuh akan menjadi normal kembali sesudah berumur 4-8 jam, bila suhu lingkungan diatur sebaik-baiknya, Hipotermia sepintas ini terdapat pada bayi dengan BBLR, hipoksia, resusitasi yang lama, ruangan tempat bersalin yang dingin, bila bayi tidak segera dibungkus setelah lahir, terlalu cepat dimandikan (kurang dari 4 jam sesudah lahir), pembe­rian morfin pada ibu yang sedang bersalin.

b.      Hipotermia akut Terjadi bila bayi berada di lingkungan yang d ingin selama 6-12 jam. terdapat pada bayi dengan BBLR diruang tempat bersalin yang dingin, inkubator yang tidak cukup panas, kelalaian dari dokter, bidan dan perawat terhadap bayi yang akan lahir, yaitu diduga mati dalam kan­dungan akan tetapi ternyata lahir hidup dan sebagainya. Gejalanya ialah le­mah, gelisah, pernafasan dan bunyi jantung lambat dan kedua kaki dingin. Terapinya ialah dengan segera memasukkan bayi ke dalam inkubator yang suhunya telah diatur menurut kebutuhan bayi dan dalam keadaan telanjang supaya dapat diawasi dengan teliti

c.       Hipotermia sekunder. Keadaan ini tidak disebabkan oleh suhu lingkung­an yang dingin, akan tetapi oleh beberapa penyebab lain seperti sepsis, sindrom gangguan pernafasan dengan hipoksia atau hipoglikemia, perdarahan intrakranial, transfusi tukar, penyakit jantung bawaan yang berat dan bayi dengan BBLR dan hipoglikemia. Pengobatannya ialah dengan meng­obati penyebabnya misalnya dengan pemberian antibiotika, larutan gluko­sa, oksigen dan sebagainya. Pemeriksaan suhu tubuh pada bayi yang sedang mendapat transfusi tukar harus dilakukan beberapa kali oleh karena hipotermia harus diketahui secepat-cepatnya dan bila suhu sekitar 320C, transfusi tukar harus dihentikan untuk sementara waktu sampai suhu tubuh

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Trauma Abdomen

Insiden trauma abdomen meningkat dari tahun ke tahun. Mortalitas biasanya lebih tinggi pada trauma tumpul abdomen dari pada trauma tusuk. Walaupun tehnik diagnostik baru sudah  banyak dipakai, misalnya Computed Tomografi, namun trauma tumpul abdomen masih merupakan tantangan bagi ahli klinik.

Diagnosa dini diperlukan untuk pengelolaan secara optimal. Evaluasi awal sangat bermanfaat tetapi terkadang cukup sulit karena adanya jejas yang tidak jelas pada area lain yang terkait.

PATOFISIOLOGI

Jejas pada abdomen dapat disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam. Pada trauma tumpul dengan velisitas rendah  (misalnya akibat tinju) biasanya menimbulkan kerusakan satu organ. Sedangkan trauma tumpul velositas tinggi sering menimbulkan kerusakan organ multipel, seperti organ padat ( hepar, lien, ginjal ) dari pada organ-organ berongga. (Sorensen, 1987)

Yang mungkin terjadi pada trauma abdomen adalah :

Perforasi

Gejala perangsangan peritonium yang terjadi dapat disebabkan oleh zat kimia atau mikroorganisme. Bila perforasi terjadi dibagian atas, misalnya lambung, maka terjadi perangsangan oleh zat kimia segera sesudah trauma dan timbul gejala peritonitis hebat.

Bila perforasi terjadi di bagian bawah seperti kolon, mula-mula timbul gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembang biak. Baru setelah 24 jam timbul gejala-gejala akut abdomen karena perangsangan peritoneum.

Mengingat kolon tempat bakteri dan hasil akhirnya adalah faeses, maka jika kolon terluka dan mengalami perforasi perlu segera dilakukan pembedahan. Jika tidak segera dilakukan pembedahan, peritonium akan terkontaminasi oleh bakteri dan faeses. Hal ini dapat menimbulkan peritonitis yang berakibat lebih berat.

Perdarahan

Setiap trauma abdomen (trauma tumpul, trauma tajam, dan tembak) dapat menimbulkan perdarahan. Yang paling banyak terkena robekan pada trauma adalah alat-alat parenkim, mesenterium, dan ligamenta; sedangkan alat-alat traktus digestivus pada trauma tumpul biasanya terhindar. Diagnostik perdarahan pada trauma tumpul lebih sulit dibandingkan dengan trauma tajam, lebih-lebih pada taraf permulaan. Penting sekali untuk menentukan secepatnya, apakah ada perdarahan dan tindakan segera harus dilakukan untuk menghentikan perdarahan tersebut.

Sebagai contoh adalah trauma tumpul yang menimbulkan perdarahan dari limpa. Dalam taraf pertama darah akan berkumpul dalam sakus lienalis, sehingga tanda-tanda umum perangsangan peritoneal belum ada sama sekali. Dalam hal ini sebagai pedoman untuk menentukan limpa robek (ruptur lienalis) adalah :

  • Adanya bekas (jejas) trauma di daerah limpa
  • Gerakkan pernapasan di daerah epigastrium kiri berkurang
  • Nyeri tekan yang hebat di ruang interkostalis 9 – 10 garis aksiler depan kiri.

DIAGNOSTIK

Riwayat

Dapatkan keterangan mengenai perlukaannya, bila mungkin dari penderitanya sendiri, orang sekitar korban, pembawa ambulans, polisi, atau saksi-saksi lainnya, sesegera mungkin, bersamaan dengan usaha resusitasi.

Penemuan

Trauma tumpul pada abdomen secara tipikal menimbulkan rasa nyeri tekan, dan rigiditas otot, pada daerah terjadinya rembesan darah atau isi perut. Tanda-tanda ini dapat belum timbul hingga 12 jam atau lebih pasca trauma, sehingga kadanga-kadang diperlukan pengamatan yang terus-menerus yang lebih lama. Nyeri yang berasal dari otot dan tulang, mungkin malah tak terdapat tanda-tanda objektif yang dapat menunjukan perlukaan viseral yang luas. Fraktur pada iga bagian bawah sering kali menyertai perlukaan pada hati dan limpa. Pemeriksaan rektum secaga digital, dapat menimbulkan adanya darah pada feses

Test Laboratorium

Secara rutin, diperiksa hematokrit, hitung jenis leukosit, dan urinalisis, sedangkan test lainnya dilakukan bila diperlukan. Nilai-nilai amilase urine, dan serum dapat membantu untuk menentukan adanya perlukaan pankreas atau perforasi usus.

Foto Sinar X

  • Film polos abdomen dapat menunjukkan adanya udara bebas intraperitoneal, obliterasi bayangan psoas, dan penemuan-penemuan lainnya yang pada umunya tak khas. Fraktur prosesus transversalis  menunjukan adanya trauma hebat, dan harus mengingatkan kita pada kemungkinan adanya perlukaan viseral yang hebat.
  • Film dada dapat menunjukkan adanya fraktur iga, hematotorak, pnemotorak, atau lainnya yang berhubungan dengan perlukaan thorak
  • Penderita dengan tauma tumpul sering memerlukan foto thorak sinar X tengkorak, pelvis, dan anggota gerak lainnya.
  • Studi kontras pada saluran kemih diperlukan bila terdapat hematuria.
  • Foto sinar X dengan kontras pada saluran pencernaan atas dan bawah, diperlukan pada kasus tertentu.
  • C.T Scan abdomen sangat membantu pada beberapa kasus, tetapi  inibelim banyak dilakukan.
  • Angiografi dapat memecahkan teka-teki tantang perlukaan pada limpa, hati, dan pakreas. Pada kenyataanya, angiografi abdominal jarang dilakukan.

 

Test Khusus

Lavase peritoneal berguna untuk mengetahui adanya perdarahan intraabdomen pada suatu trauma tumpul, bila dengan pemeriksaan fisik dan radilogik, diagnosa masih diragukan. Test ini tak boleh dilakukan pada penderita yang tak kooperatif, melawan dan yang memerlukan operasi abdomen segera. Kandung kemih harus dikosongkan terlebih dahulu. Posisi panderita terlentang, kulit bagian bawah disiapkan dengan jodium tingtur dan infiltrasi anestesi lokal di garis tengah, diantara umbilikus dan pubis. Kemudian dibuat insisi kecil, kateter dialisa peritoneal dimasukkan ke dalam rongga peritoneal. Ini dapat dibantu/dipermudah oleh otot-otot 

abdomen penderta sendiri, dengan jalan meikan kepala penderita. Kateter ini harus dipegang dengan kedua tangan, untuk mencegah tercebur secara acak ke dalam rongga abdomen.

Tehnik yang lebih aman adalah dengan  membuat insisi sepanjang 1 cm pada fasia, dan kateter di masukkan ke dalam rongga peritoneal dengan pengamatan secara langsung. Pisau ditarik dan  kateter dimasukkan secara hati-hati ke pelvis ke arah rongga sakrum. Adanya aliran darah secara spontan pada kateter menandakan adanya perdarahan secara positif. Tetapi ini jarang terjadi. Masukan 1000 cc larutan garam fisiologis ke dalam rongga peritoneal (jangan larutan dextrose), biarkan cairan ini turun sesuai dengan gaya grvitasi. Adanya perdarahan intraabdominal ditandai dengan warna merah seperti anggur atau  adanya hematokrit 1% atau lebih pada cairan tersebut (cairan itu keluar kembali). Bila cairan tetap, bening atau hanya sedikit berubah merah tandanya negatif.

PENATALAKSANAAN

1.      Segera dilakukan operasi untuk menghentikan perdarahan secepatnya. Jika penderita dalam keadaan syok tidak boleh dilakukan tindakan selain pemberantasan syok (operasi)

2.      Pemberian antibiotika IV pada penderita trauma tembus atau pada trauma tumpul bila ada persangkaan perlukaan intestinal.

3.      Luka tembus merupakan indikasi dilakukannya tindakan laparatomi eksplorasi bila ternyata peritonium robek. Luka karena benda tajam yang dangkal hendaknya diekplorasi dengan memakai anestesi lokal, bila rektus posterior tidak sobek, maka tidak diperlukan laparatomi.

4.      Penderita dengan trauma tumpul yang terkesan adanya perdarahan hebat yang meragukan kestabilan sirkulasi atau ada tanda-tanda perlukaan abdomen lainnya memerlukan pembedahan.

5.      Laparatomi

  • Prioritas utama adalah menghentikan perdarahan yang berlangsung. Gumpalan kassa dapat menghentikan perdarahan yang berasal dari daerah tertentu, tetapi yang lebih penting adalah menemukan sumber perdarahan itu sendiri
  • Kontaminasi lebih lanjut oleh isi usus harus dicegah dengan mengisolasikan bagian usus yang terperforasi tadi dengan mengklem segera mungkin setelah perdarahan teratasi.
  • Melalui ekplorasi yang seksama amati dan teliti seluruh alat-alat di dalamnya. Korban trauma tembus memerlukan pengamatan khusus terhadap adanya kemungkinan perlukaan pada pankreas dan duodenum.
  • Hematoma retroperitoneal yang tidak meluas atau berpulsasi tidak boleh dibuka.
  • Perlukaan khusus perlu diterapi
  • Rongga peritoneal harus dicuci dengan larutan garam fisiologis sebelum ditutup
  • Kulit dan lemak subcutan dibiarkan terbuka bila ditemukan kontaminasi fekal, penutupan primer yang terlambat akan terjadi dalam waktu 4 – 5 hari kemudian.  

PENGKAJIAN

Pengkajian merupakan aspek penting pada trauma abdomen karena trauma ini membutuhkan tindakan segera. Hal-hal yang dikaji meliputi :  (Sorensen 1987)

1.      Kumpulkan riwayat tentang kejadian trauma.

2.      Kaji pasien terhadap tanda-tanda distensi abdomen lanjut. Adanya nyeri tekan, gerakan usus tak teratur, kaku otot., bunyi usus hilang, hipotensi dan syok.

3.      Auskultasi bunyi usus, tidak adanya bunyi usus merupakan tanda terlibatnya intraperitoneal. Bila terdapat tanda-tanda iritasi peritoneal biasanya dilakukan ekploprasi celiotomy.

4.      Catat semua keadaan fisik pasien seprti; pemeriksaan yang dilakukan.

5.      Amati adanya cedera dada yang sering merupakan penyerta

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Masalah yang timbul pada trauma abdomen sering merupakan masalah medis yang perlu penanganan segera seperti perdarahan,syok hipovolemik, potensial infeksi, dan tetanus.

Diagnosa keperawatan muncul terutama setelah akibat prosedur pembedahan abdominal yang dilakukan. Menurut Sparks 1991 diagnosa keperawatan pada pasien laparatomi meliputi :

  • Potensial infeksi sehubungan dengan adanya luka operasi
  • Potensial injuri sehubungan dengan gangguan aktifitas
  • Nyeri sehubungan dengan adanya luka operasi
  • Potensial kerusakan integritas kulit stoma sehubungan dengan perembesan sekresi cairan dari drainage.
  • Gangguan body image sehubungan dengan adanya kolostomy (stoma)

RENCANA TINDAKAN

Tujuan yang ingin dicapai adalah mengurangi penyulit seperti;  perdarahan, mengenal tanda-tanda awal komplikasi dan mengatasi nyeri yang dialami pasien.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

GEA (Gastroenteritis Akut)

I.          PENGERTIAN

Diare adalah buang air besar dengan jumlah feces yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml/jam feces). Dengan feces berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi BAB yang meningkat.

(Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi Arief Mansjoer,  2000)

Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari.

(Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi Arief Mansjoer,  2000)

Diare adalah BAB encer atau cair lebih dari tiga kali sehari (WHO/1980).

II.       ETIOLOGI

Infeksi merupakan penyebab utama diare akut, baik oleh bakteri, parasit maupun virus. Penyebab lain adalah faksin dan obat, nutrisi enteral diikuti puasa yang berlangsung lama, kemoterapi, impaksi fekal (overflow diarrhea) atau berbagai kodisi lain.

–       Infeksi bakteri : vibrio, escherichia coli, salmonella, shigella, campylobacter, yershinia, dan lain-lain.

–       Infeksi virus : entenevirus, (Virus ECHO, coxsackaie, poliomelitis), adenovirus, rotovirus, dan lain-lain.

–       Infeksi parasit : cacing (ascori, trichoris, oxyuris, histolitika, gardia lamblia, tricomona hominis), jamur (candida albicans)

Infeksi diluar alat perncernaan makanan seperti : Otitis media akut (OMA), tansilitis, aonsilotaringitis, bronco pneumonia, encetalitis

III.          MANIFESTASI KLINIS

Pasien dengan diare akut akibat infeksi sering mengalami naurea, muntah, nyeri perut sampai kejang perut, deman dan diare. Terjadinya renjatan hipovolemik harus dihindari. Kekurangan cairan menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi serak. Gangguan Biokimiawi seperti asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul). Bila terjadi renjatan hipovolemik barat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120x / menit). Tekanan darah menurun sampai tak terukur, pasien gelisah, muka pucat, ujung-ujung ekstrimitas dingin, kadang sianosis. Kekurangan kalium menyebabkan aritmia jantung perfusi ginjal menurun sehingga timbul anuria, sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul penyakit berupa nekrosis tubulas akut. Secara klinis diare karena infeksi akut terbagi menjadi 2 golongan :

1. Koleriform, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja.

2. Disentriform, pada diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah.

  • Akibat diare

–       Dehidrasi.

–       Asidosis metabolik.

–       Gangguan gizi akibat muntah dan berak-berak.

–       Hipoglikemi.

–       Gangguan sirkulasi darah akibat yang banyak keluar sehingga terjadi syock.

  • Derajat dehidrasi

1.   Tidak ada dehidrasi bila terjadi penurunan BB 2,5 %.

2.   Dehidrasi ringan, bila terjadi penurunan BB 2,5 – 5 %.

3.   Dehidrasi sedang, bila terjadi penurunan BB 5 – 10 %.

4.   Dehidrasi berat, bila terjadi penurunan BB 10 %.

IV.       PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.      Pemeriksaan darah tepi lengkap.

2.      Pemeriksaan analisis gas darah, elektrolit, ureum, kreatin dan berat jenis, plasma dan urine.

3.      Pemeriksaan urin lengkap.

4.      Pemeriksaan feces lengkap dan biakan feces dari colok dubur.

5.      Pemeriksaan biakan empedu bila demam tinggi dan dicurigai infeksi sistemik.

V.    PENATALAKSANAN

Pada anak-anak, penatalaksanaan diare akut akibat infeksi terdiri:

1.      Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan.

4 hal penting yang perlu diperhatikan

a.       Jenis cairan.

Pada diare akut yang ringan dapat diberikan oralit. Diberikan cairan ringel laktat bila tidak terjadi dapat diberikan cairan NaCl Isotonik ditambah satu ampul Na bicarbonat 7,5 % 50 m.

b.      Jumlah cairan.

Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan.

c.       Jalan masuk atau cara pemberian cairan.

Rute pemberian cairan pada orang dewasa dapat dipilih oral / IV.

d.      Jadwal pemberian cairan.

Dehidrasi dengan perhitungan kebutuhan cairan berdasarkan metode Daldiyono diberikan pada 2 jam pertama. Selanjutnya kebutuhan cairan Rehidrasi diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke tiga.

2.      Identifikasi penyebab diare akut karna infeksi.

Secara klinis, tentukan jenis diare koleriform atau disentriform. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang yang terarah.

3.      Terapi simtomatik.

Obat anti diare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati-hati atas pertimbangan yang rasional. Antimotalitas dan sekresi usus seperti Loperamid, sebaiknya jangan dipakai pada infeksi salmonella, shigela dan koletis pseudomembran, karena akan memperburuk diare yang diakibatkan bakteri entroinvasif akibat perpanjangan waktu kontak antara bakteri dengan epithel usus. Pemberian antiemetik pada anak dan remaja, seperti metoklopopomid dapat menimbulkan kejang akibat rangsangan ekstrapiramidal.

4.      Terapi Definitif

Pemberian edurasi yang jelas sangat penting sebagai langkah pencegahan. Higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui vaksinasi sangat berarti, selain terapi farmakologi. (Kapita Selekta Kedokteran 1 Edisi 2000)

VI.    KOMPLIKASI

Komplikasi diare mencakup potensial terhadap disritmia jantung akibat hilangnya cairan dan elektrolit secara bermakna (khususnya kehilangan kalium). Pengeluaran urin kurang dari 30 ml / jam selam 2 –3 hari berturut-turut. Kelemahan otot dan parastesia. Hipotensi dan anoreksia serta mengantuk karena kadar kalium darah di bawah 3,0 mEq / liter (SI : 3 mmol / L) harus dilaporkan, penurunan kadar kalium menyebabkan disritmia jantung (talukardio atrium dan ventrikel, febrilasi ventrikel dan kontraksi ventrikel prematur) yang dapat menimbulkan kematian.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Anemia

Pengertian

Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang  mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges, 1999). Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935).

Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 : 256). Dengan demikian anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh dan perubahan patotisiologis yang mendasar yang diuraikan melalui anemnesis yang seksama, pemeriksaan fisik dan informasi laboratorium.

Etiologi

Penyebab tersering dari anemia adalah perdarahan, aplasia sum-sum tulang dan kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti kelainan genetik, penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya. Penyebab umum dari anemia:

  1. Perdarahan hebat
  • Akut (mendadak)
  • Kecelakaan
  • Pembedahan
  • Persalinan
  • Pecah pembuluh darah
  • Penyakit Kronik (menahun)
  • Perdarahan hidung
  • Wasir (hemoroid)
  • Ulkus peptikum
  • Kanker atau polip di saluran pencernaan
  • Tumor ginjal atau kandung kemih
  • Perdarahan menstruasi yang sangat banyak
  1. Berkurangnya pembentukan sel darah merah
  • Kekurangan zat besi
  • Kekurangan vitamin B12
  • Kekurangan asam folat
  1. Kerusakan pada pembentuk sel darah merah
  • Meningkatnya penghancuran sel darah merah
  • Pembesaran limpa
  • Kerusakan mekanik pada sel darah merah
  • Reaksi autoimun terhadap sel darah merah
  • Hemoglobinuria nokturnal paroksismal
  • Sferositosis herediter
  • Elliptositosis herediter
  • Kekurangan G6PD
  • Penyakit sel sabit
  • Penyakit hemoglobin C
  • Penyakit hemoglobin S-C
  • Penyakit hemoglobin E
  • Thalasemia (Burton, 1990).

 Tanda dan Gejala

  • 5L, yakni lemah, letih, lesu, lelah, lalai. Kalau muncul 5 gejala ini, bisa dipastikan seseorang terkena anemia.
  • Penurunan kinerja fisik
  • Gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan dalam perubahan perilaku
  • Anorexia
  • Mudah lelah dan hilangnya energi,
  • Detak jantung yang cepat tidak seperti biasanya yang terutama muncul pada saat exercise (latihan),
  • Napas pendek dan sakit kepala terutama pada saat latihan
  • Sulit untuk berkonsentrasi
  • Pusing
  • Kulit pucat
  • §  Kram pada kaki
  • Sulit tidur (insomnia).
  • Gejala lain adalah munculnya sklera (warna pucat pada bagian kelopak mata bawah), anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang.
  • Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung.

Patofisiologi

Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapt terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal.

Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik atau dalam system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang ; kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera.

Anemia ditandai rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting, Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika apasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, Lambat menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki

5.  Pemeriksaan Penunjang

  • Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hematokrit menurun.
  • Jumlah eritrosit : menurun (AP), menurun berat (aplastik), MCV (molume korpuskular rerata) dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hipokronik (DB), peningkatan (AP). Pansitopenia (aplastik).
  • Jumlah retikulosit : bervariasi, misal : menurun (AP), meningkat (respons sumsum tulang terhadap kehilangan darah/hemolisis).
  • Pewarna sel darah merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat mengindikasikan tipe khusus anemia).
  • LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misal : peningkatan kerusakan sel darah merah atau penyakit malignasi.
  • Masa hidup sel darah merah : berguna dalam membedakan diagnosa anemia, misal : pada tipe anemia tertentu, sel darah merah mempunyai waktu hidup lebih pendek.
  • Tes kerapuhan eritrosit : menurun (DB).
  • SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik).
  • Jumlah trombosit : menurun (aplastik), meningkat (DB), normal atau tinggi (hemolitik)
  • Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.
  • Bilirubin serum (tak terkonjugasi) : meningkat (AP, hemolitik).
  • Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia sehubungan dengan defisiensi masukan/absorpsi
  • Besi serum : tak ada (DB), tinggi (hemolitik)
  • TBC serum : meningkat (DB)
  • Feritin serum : meningkat (DB)
  • Masa perdarahan : memanjang (aplastik)
  • LDH serum : menurun (DB)
  • Tes schilling : penurunan eksresi vitamin B12 urine (AP)
  • Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak adanya asam hidroklorik bebas (AP).
  • Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam jumlah, ukuran, dan bentuk, membentuk, membedakan tipe anemia, misal: peningkatan megaloblas (AP), lemak sumsum dengan penurunan sel darah (aplastik).
  • Pemeriksaan andoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan, perdarahan GI (Doenges, 1999).

6.  Penatalaksanaan

Tindakan umum dari penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang :

1. Transpalasi sel darah merah.

2. Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi.

3. Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah merah.

4. Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen

5. Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada.

6. Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau.

Pengobatan (untuk pengobatan tergantung dari penyebabnya) :

  1. Anemia defisiensi besi

Penatalaksanaan :

  • Mengatur makanan yang mengandung zat besi, usahakan makanan yang diberikan seperti ikan, daging, telur dan sayur.
  • Pemberian preparat fe
  • Perrosulfat 3x 200mg/hari/per oral sehabis makan
  • Peroglukonat 3x 200 mg/hari /oral sehabis makan.
  1. Anemia pernisiosa : pemberian vitamin B12
  2. Anemia asam folat : asam folat 5 mg/hari/oral
  3. Anemia karena perdarahan : mengatasi perdarahan dan syok dengan pemberian cairan dan transfusi darah.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

CA CERVIX

Pengertian

Kanker leher rahim atau carcinoma cervix adalah keganasan dari serviks yang ditandai dengan adanya perdarahan lewat jalan lahir atau vagina, tetapi gejala tersebut tersebut tidak muncul sampai tingkat lanjut, dimana tanda dan diagnosa pasti bisa ditegakkan dengan menggunakan pap smear(Zhukmana, 2009).

Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal disekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).

2 Etiologi

Sebab langsung dari kanker serviks belum diketahui (idiopatik).

Faktor Predisposisi

 

  1. Status perkawinan

Insiden terjadi lebih tinggi pada wanita yang menikah, terutama gadis yang coitus pertama (coitarche) pada usia < 16 tahun. Insiden meningkat dengan tingginya paritas, apalagi jarak persalinan terlampau dekat.

  1. Golongan sosial ekonomi rendah

Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.

  1. Hygiene dan sirkumsisi

Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kanker serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.

  1. Merokok dan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)

Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

  1. Infeksi virus

Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dam virus papiloma atau virus kondiloma akuminta diduga sebagai faktor penyebab kanker serviks

  1. Sering berganti-ganti pasangan.

Akan meningkatnya resiko terpapar HPV

  1. Jumlah kehamilan dan partus

Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.

  1. Insiden meningkat pada pasangan dengan laki-laki yang tidak bersunat
  2. Kebiasaan merokok ataupun terpapar karsinogen.
  3. Penyakit menular seksual.
  4. Memiliki kebiasaan sex yang menyimpang.
  5. Menggunakan pil KB lebih dari 4 tahun menaikkan resiko 1,5 – 2,5 kali.
  6. Kekurangan vitamin C, asam folat, retinol dan vitamin E.

Tanda Dan Gejala

  • Gejala kanker leher /mulut rahim pada stadium dini :
  • Gejala kanker leher /mulut rahim pada stadium lanjut :
  • Kadang-kadang terjadi pendarahan
  • Pendarahan setelah berhubungan intim
  • Munculnya keputihan :  makin lama, makin berbau busuk, diakibatkan infeksi dan nekrosis jaringan
  • Perdarahan setitik pasca senggama dan pengeluaran cairan encer dari vagina, atau perdarahan kontak yaitu perdarahan yang dialami setelah senggama, merupakan gejala Ca Serviks (75-80%)
  • Hilangnya nafsu makan dan berat badan
  • Perdarahan spontan : perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah dan makin lama makin sering terjadi, terutama pada tumor yang bersifat eksofitik.
  • Pendarahan dari saluran kencing dan anus
  • Keluarnya feaces menyertai urin melalui vagina
  • Anemia : terjadi akibat perdarahan pervaginam yang berulang.
  • Pebengkakan pada kaki
  • Gagal ginjal : infiltrasi sel tumor ke ureter yang menyebabkan obstruksi total.
  • Nyeri perut bawah, panggul dan punggung : ditimbulkan oleh infiltrasi sel tumor ke serabut saraf.

5.  Pemeriksaan Penunjang

  1. Sitologi/Pap Smear (Prostatic Acid Phosphate)

Keuntungan : Murah dan dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan     :   Tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi

  1. Schillentest
    Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.
  2. Kolposkopi

Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali.

Keuntungan : dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy.

Kelemahan  : hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelainan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat.

  1. Kolpomikroskopi
    Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali.
  2. Biopsi
    Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya
  3. Konisasi
    Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput sendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan para serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.
  4. Pemeriksaan secara radiologis (CT Scan dan MRI) untuk mengetahui apakah sudah ada penyebaran lokal dari ca tersebut.
  5. Servikografi
  6. Gineskopi
  7. Pap net/pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive

6. Penatalaksanaan

Bagi pasien yang terdiagnosa mengalami perubahan abnormal sel sejak dini, maka dapat dilakukan beberapa hal seperti :

  1. Pemanasan, diathermy atau dengan sinar laser.

2.      Cone biopsi, yaitu dengan cara mengambil sedikit dari sel-sel servix termasuk sel yang mengalami perubahan. Tindakan ini memungkinkan pemeriksaan yang lebih teliti untuk memastikan adanya sel-sel yang mengalami perubahan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh ahli kandungan.

Jika perjalanan penyakit telah sampai pada tahap pre-kanker dan kanker servix  telah dapat diidentifikasi, Maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk penyembuhannya, antara lain :

  1. Operasi atau hysterectomy yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker, biasanya uterus beserta leher rahimnya.
  2. Radioterapi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

DHF

A. Pengertian

DHF (Dengue Haemoragic fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti (betina) (Christantie Effendy, 1995).

Demam dengue adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak dan remaja atau orang dewasa dengan tanda-tanda klinis berupa demam, nyeri otot dan/ atau nyeri sendi yang disertai leukopenioa dengan/tanpa ruam, dan limfadenopati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakan bola mat, gangguan rasa mengecap, trombositopenia ringandan petekiie spontan (Mansjoer, 2001).

B.     Etiologi

Virus dengue tergolong dalam famili/suku/grup flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke-III, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953 – 1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksikolat, stabil pada suhu 700 C. Dengue merupakan serotipe yang paling banyak beredar.

C.    Tanda Dan Gejala

    1. Demam tinggi selama 5 – 7 hari
    2. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
    3. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
    4. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
    5. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
    6. Sakit kepala.
    7. Pembengkakan sekitar mata.
    8. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
    9. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

D. Komplikasi

Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :

  1. Perdarahan luas.
  2. Shock atau renjatan.
  3. Effusi pleura
  4. Penurunan kesadaran. 
  • E. Klasifikasi DHF
  1. Derajat I :

Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positif, trombositopeni dan hemokonsentrasi.

  1. Derajat II :

Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.

  1. Derajat III :

Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah.

  1. Derajat IV :

Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.

1. Darah :

ü  Trombosit menurun.

ü  HB meningkat lebih 20 %

ü  HT meningkat lebih 20 %

ü  Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3

ü  Protein darah rendah

ü  Ureum PH bisa meningkat

ü  NA dan CL rendah

2. Serology HI (hemaglutination inhibition test) :

ü  Rontgen thorax : Efusi pleura.

ü  Uji test tourniket (+)

F. Penatalaksanaan

  1. Tirah baring.
  2. Pemberian makanan lunak.
  3. Pemberian cairan melalui infus.
  4. Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
  5. Pemberian obat-obatan : antibiotik, antipiretik dan anti konvulsi jika terjadi kejang
  6. Observasi tanda-tanda vital.
  7. Observasi adanya tanda-tanda renjatan.
  8. Observasi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
  9. Periksa HB, HT, dan trombosit setiap hari.
  • G. Dampak Hospitalisasi

Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stres tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan. Penyebab anak stress meliputi :

  1. Psikososial

Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran

  1. Fisiologis

Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri

  1. Lingkungan asing

Kebiasaan sehari-hari berubah

  1. Pemberian obat kimia

Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)

  1. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya
  2. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri
  3. Selalu ingin tahu alasan tindakan
  4. Berusaha independen dan produktif

Reaksi orang tua :

  1. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan anak
  2. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya peraturan Rumah sakit.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

MYASTHENIA GRAVIS

A.Definisi
Myastenia gravis merupakan gangguan yang mempengaruhi trasmisi neuromuskuler pada otot tubuh yang kerjanya dibawah kesadaran seseorang (volunteer) . Karakteristik yang muncul berupa kelemahan yang berlebihan dan umumnya terjadi kelelahan pada otot-otot volunter dan hal itu dipengaruhi oleh fungsi saraf cranial (Brunner and Suddarth 2002)
Myasthenia gravis adalah gangguan neuromuskuler yang mempengaruhi transmisi impuls pada otot-otot volunter tubuh (Sandra M. Neffina 2002).

B.Etiologi
Penyebaba gangguan ini tidak diketahui, tetapi kemungkin terjadi karena gangguan atau destruksi reseptor asetilkolin pada persimpangan neoromuskular akibat reaksi autoimun. Kontraksi otot mengalami kerusakan menyebabkan kelemahan otot.

C.Manifestasi Klinik
Kelemahan otot ekstrim dan mudah mengalami kelelahanü
Diplobia (penglihatan ganda)ü
Ptosis (jatuhnya kelopak mata)ü
Disfonia (gangguan suara)ü
Kelemahan diafragma dan otot-otot interkosal progressif menyebabkan gawat napas.ü

D.Diagnostik Test
1.Test serum anti bodi resptor ACh yang positif pada 90% pasien.
2.Test tensilon : injeksi iv memeperbaiki respon motorik sementara dan menurunkan gejala pada krisis miastenik untuk sementara waktu memperburuk gejala-gejala pada krisis kolinergik.
3.Test elektro fisiologis untuk menunjukan penurunan respon rangsangan saraf berulang.
4.CT dapat menunjukan hiperplasia timus yang dianggap menyebabkan respon autoimun.

E.Patofisiologi dan Penyimpangan KDM
Dasar ketidk normalan pada miastenia gravis adalah adanya kerusakan pada trasmisi inpuls saraf menuju sel-sel otot karena kehilangan kemampuan atau hilangnya reseptor normal membran post sinaps pada sambungan neuromuskuler. Penelitian memperlihakan adanya penurunan 70-90% reseptor asetilkolin pada sambungan neuromuskuler setiap individu. Miastenia gravis dipertimbangkan sebagai penyakit autoimun yang bersikap langsung melawan reseptor asetilkolin (AChR) yang merusak transmisi neuromuskuler.

Posted in Uncategorized | Leave a comment